Penerapan Pengetahuan dan Berbagi Ilmu dengan Rekan Sejawat
Setelah mendapatkan materi pada modul 3.3 tentang
pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, saya mendapatkan banyak
pengetahuan baru mengenahi bagaimana cara mengambil keputusan secara tepat. Sebelum mengambil keputusan, terdapat 9 langkah pengujian pengambilan
keputusan yang harus dijadikan sebagai bahan pertimbangan, yaitu: 1) mengenali
bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan; 2) menentukan siapa yang
terlibat; 3) mengumpulkan fakta-fakta yang relevan; 4) pengujian benar/salah;
5) pengujian paradigma; 6) melakukan prinsip resolusi; 7) investigasi trilema;
8) membuat keputusan, dan 9) melihat kembali keputusan dan merefleksikan.
Empat paradigma dilema etika terdiri dari individu lawan
masyarakat (individual vs community), rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice
vs mercy), kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty), dan jangka
pendek lawan jangka panjang (short
term vs long term). Sedangkan tiga prinsip resolusi meliputi prinsip
berpikir berbasis hasil akhir (end-based thinking), berpikir berbasis
peraturan (rule-based thinking), dan berpikir berbasis rasa peduli (care-based
thinking).
Saya akan menerapkan pengetahuan saya tersebut dalam
kehidupan sehari-hari saya. Selain itu saya akan mentransfer materi yang telah
saya dapatkan kepada rekan guru di sekolah saya. Saya akan mengirimkan ulasan materi tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin
pembelajaran ke grup whatsapp sekolah. Selain itu, saya akan memanfaatkan momen
bertemu dengan rekan-rekan saya untuk berbagi pengetahuan secara langsung.
Langkah
Awal Pengambilan Keputusan
Langkah
awal yang akan saya lakukan untuk memulai pengambilan keputusan berdasarkan
pemimpin pembelajaran adalah memahami terlebih dahulu konsep pengambilan
keputusan yang tepat. Setelah itu saya akan langsung menerapkan pengetahuan
yang telah saya dapatkan tersebut dalam kehidupan sehari-hari saya baik di
lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
Waktu
Pelaksanaan Rencana
Saya
akan memulai menerapkan langkah-langkah di atas sejak saat ini juga. Penerapan
pengetahuan akan saya lakukan kapan saja di saat saya harus mengambil sebuah
keputusan atau ketika saya berada dalam sebuah dilema. Lalu dalam waktu satu
minggu ke depan saya akan membagikan link blog pribadi saya tentang pengambilan
keputusan sebagai pemimpin pembelajaran ke grup whatsapp dewan guru di sekolah
saya. Mengenahi berbagi informasi dan pengetahuan secara langsung akan saya
lakukan kapan saja ketika saya memiliki kesempatan berbincang-bincang dengan
rekan sejawat saya.
Pendamping
dan Teman Diskusi
Saya
akan meminta beberapa guru yang selama ini selalu mendukung saya untuk saya
jadikan sebagai pendamping dalam menjalankan keputusan sebagai pemimpin
pembelajaran. Saya sudah sering melakukan diskusi dengan berbagai topik
berkaitan dengan pembelajaran Bersama mereka. Harapan saya, mereka akan terus
dapat menjadi rekan sejawat saya yang bisa selalu sepemikiran di dalam
memajukan sekolah.
Dilema
Etika dan Rencana Pengambilan Keputusan
Saya berencana untuk menerapkan
pengetahahuan saya dengan menggunakan 9 prinsip pengujian keputusan. Salah satu
dilema yang sedang saya hadapi adalah pada tanggal 23 – 27 September 2021, di
sekolah saya menyelenggarakan Penilaian Tengah Semester (PTS) Ganjil Tahun
Pelajaran 2021/2022. Beberapa mata pelajaran diujikan secara luring, sedangkan
Sebagian yang lain diujikan secara daring. Mata pelajaran yang saya ampu,
Bahasa dan Sastra Inggris kebetulan diujikan secara daring yaitu melalui
website sekolah. Setelah kegiatan PTS selesai, ternyata ada 5 murid di kelas
saya yang tidak mengikuti PTS dengan berbagai alasan. Pada hari Sabtu/2 Oktober
2021, murid yang belum mengikuti PTS diberikan kesempatan susulan dari pukul
08.00-18.00 WIB.
Dilema muncul manakala saya ketahui
bahwa dari 5 murid yang tidak mengikuti PTS, ternyata hanya 1 orang yang saja
yang mengikuti susulan. Sebagai guru tentu saya kecewa karena 4 murid tersebut
tidak mengikuti ketentuan sekolah mengenahi PTS. Di sisi yang lain, murid-murid
ini harus tetap memiliki nilai PTS.
Akhirnya saya harus mengambil keputusan,
apakah saya akan melakukan tindakan coaching terhadap murid-murid ini dan kembali
memberikan kesempatan PTS susulan ataukah mengosongkan nilai PTS mereka dengan
alasan karena murid sudah diberi kesempatan PTS sebanyak 2 kali namun tidak
diikuti. Di sini saya mulai menganalisa paradigma dilema apa yang sedang saya
hadapi. Dari empat paradigma dilema, kasus yang saya hadapi ini saya golongkan
ke dalam paradigma dilema rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy).
Di satu sisi, saya harus turut menegakkan peraturan sekolah namun di sisi yang
lain saya harus mencoba menggali secara lebih mendalam apa yang menjadi kendala
4 murid ini sehingga mereka tidak mengikuti PTS.
Dari paradigma dilema yang ada, saya
mengambil keputusan dengan menggunakan prinsip berpikir berbasis hasil akhir
(end-based learning). Saya berpikir bahwa jika saya mengosongkan nilai PTS 4
murid ini, jika diakumulasi dengan nilai penilaian harian dan nilai penilaian
akhir semester, maka nilai murid-murid tersebut pasti akan kecil. Nilai yang
kecil dapat meneyebabkan nilai mereka menjadi tidak tuntas.
Tolak
Ukur Efektivitas Pengambilan Keputusan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar