• 3.1.a.7. Demonstrasi Kontekstual - Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran


    Penerapan Pengetahuan dan Berbagi Ilmu dengan Rekan Sejawat

    Setelah mendapatkan materi pada modul 3.3 tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, saya mendapatkan banyak pengetahuan baru mengenahi bagaimana cara mengambil keputusan secara tepat. Sebelum mengambil keputusan, terdapat 9 langkah pengujian pengambilan keputusan yang harus dijadikan sebagai bahan pertimbangan, yaitu: 1) mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan; 2) menentukan siapa yang terlibat; 3) mengumpulkan fakta-fakta yang relevan; 4) pengujian benar/salah; 5) pengujian paradigma; 6) melakukan prinsip resolusi; 7) investigasi trilema; 8) membuat keputusan, dan 9) melihat kembali keputusan dan merefleksikan.

    Empat paradigma dilema etika terdiri dari individu lawan masyarakat (individual vs community), rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy), kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty), dan jangka pendek lawan  jangka panjang (short term vs long term). Sedangkan tiga prinsip resolusi meliputi prinsip berpikir berbasis hasil akhir (end-based thinking), berpikir berbasis peraturan (rule-based thinking), dan berpikir berbasis rasa peduli (care-based thinking).

    Saya akan menerapkan pengetahuan saya tersebut dalam kehidupan sehari-hari saya. Selain itu saya akan mentransfer materi yang telah saya dapatkan kepada rekan guru di sekolah saya. Saya akan mengirimkan ulasan materi tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran ke grup whatsapp sekolah. Selain itu, saya akan memanfaatkan momen bertemu dengan rekan-rekan saya untuk berbagi pengetahuan secara langsung.

    Langkah Awal Pengambilan Keputusan

    Langkah awal yang akan saya lakukan untuk memulai pengambilan keputusan berdasarkan pemimpin pembelajaran adalah memahami terlebih dahulu konsep pengambilan keputusan yang tepat. Setelah itu saya akan langsung menerapkan pengetahuan yang telah saya dapatkan tersebut dalam kehidupan sehari-hari saya baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. 

    Waktu Pelaksanaan Rencana

    Saya akan memulai menerapkan langkah-langkah di atas sejak saat ini juga. Penerapan pengetahuan akan saya lakukan kapan saja di saat saya harus mengambil sebuah keputusan atau ketika saya berada dalam sebuah dilema. Lalu dalam waktu satu minggu ke depan saya akan membagikan link blog pribadi saya tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran ke grup whatsapp dewan guru di sekolah saya. Mengenahi berbagi informasi dan pengetahuan secara langsung akan saya lakukan kapan saja ketika saya memiliki kesempatan berbincang-bincang dengan rekan sejawat saya.

    Pendamping dan Teman Diskusi

    Saya akan meminta beberapa guru yang selama ini selalu mendukung saya untuk saya jadikan sebagai pendamping dalam menjalankan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Saya sudah sering melakukan diskusi dengan berbagai topik berkaitan dengan pembelajaran Bersama mereka. Harapan saya, mereka akan terus dapat menjadi rekan sejawat saya yang bisa selalu sepemikiran di dalam memajukan sekolah.

    Dilema Etika dan Rencana Pengambilan Keputusan

    Saya berencana untuk menerapkan pengetahahuan saya dengan menggunakan 9 prinsip pengujian keputusan. Salah satu dilema yang sedang saya hadapi adalah pada tanggal 23 – 27 September 2021, di sekolah saya menyelenggarakan Penilaian Tengah Semester (PTS) Ganjil Tahun Pelajaran 2021/2022. Beberapa mata pelajaran diujikan secara luring, sedangkan Sebagian yang lain diujikan secara daring. Mata pelajaran yang saya ampu, Bahasa dan Sastra Inggris kebetulan diujikan secara daring yaitu melalui website sekolah. Setelah kegiatan PTS selesai, ternyata ada 5 murid di kelas saya yang tidak mengikuti PTS dengan berbagai alasan. Pada hari Sabtu/2 Oktober 2021, murid yang belum mengikuti PTS diberikan kesempatan susulan dari pukul 08.00-18.00 WIB.

    Dilema muncul manakala saya ketahui bahwa dari 5 murid yang tidak mengikuti PTS, ternyata hanya 1 orang yang saja yang mengikuti susulan. Sebagai guru tentu saya kecewa karena 4 murid tersebut tidak mengikuti ketentuan sekolah mengenahi PTS. Di sisi yang lain, murid-murid ini harus tetap memiliki nilai PTS.

    Akhirnya saya harus mengambil keputusan, apakah saya akan melakukan tindakan coaching terhadap murid-murid ini dan kembali memberikan kesempatan PTS susulan ataukah mengosongkan nilai PTS mereka dengan alasan karena murid sudah diberi kesempatan PTS sebanyak 2 kali namun tidak diikuti. Di sini saya mulai menganalisa paradigma dilema apa yang sedang saya hadapi. Dari empat paradigma dilema, kasus yang saya hadapi ini saya golongkan ke dalam paradigma dilema rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy). Di satu sisi, saya harus turut menegakkan peraturan sekolah namun di sisi yang lain saya harus mencoba menggali secara lebih mendalam apa yang menjadi kendala 4 murid ini sehingga mereka tidak mengikuti PTS.

    Dari paradigma dilema yang ada, saya mengambil keputusan dengan menggunakan prinsip berpikir berbasis hasil akhir (end-based learning). Saya berpikir bahwa jika saya mengosongkan nilai PTS 4 murid ini, jika diakumulasi dengan nilai penilaian harian dan nilai penilaian akhir semester, maka nilai murid-murid tersebut pasti akan kecil. Nilai yang kecil dapat meneyebabkan nilai mereka menjadi tidak tuntas.

    Tolak Ukur Efektivitas Pengambilan Keputusan

    Efektivitas pengambilan keputusan dapat dilihat dari munculnya komitmen murid yang saya coach untuk dapat mengikuti kegiatan evaluasi pembelajaran dengan lebih baik. Saya akan memonitor perkembangan 4 murid yang akan saya coach tersebut. Pada kegiatan evaluasi pembelajaran berikutnya saya berharap agar keempat murid tersebut dapat mengikutinya sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
A highly motivated learner